Tuesday, December 13, 2022

Teori Poskolonialisme

Poskolonialisme merupakan kritik kultural (budaya) wacana kolonial yang masih terbenam dibalik kenyataan yang pernah terjadi, terutama yang mengakar di dalam praktik kultural masyarakat timur. Makna sesungguhnya dari poskolonial bukan berarti merupakan pasca kemerdekaan, namun yang dimaksudkan adalah dimulai dari sejak pertama kali kontak  penjajah dengan masyarakat pribumi. Secara ringannya, teori poskolonialisme adalah teori yang menganaisis sastra dari sebuah karya sastra yang mengalami penjajahan dimasa kolonial yang hingga sekarang masih dirasakan efeknya bukan saja secara fisik tetapi juga secara psikis ataupun psikologi. Diantara bentuk efeknya adanya perbedaan antara strata masyarakat tinggi dengan yang memiliki strata rendah. Yang tinggi menindas yang rendah, sehingga terjadinya berbagai perspektif diantara masyarakat rendah dalam memaknai masyarakat tinggi. 

        Adapun tujuan dari teori ini adalah  untuk membongkar praktik  praktik yang terselubung dalam sebuah karya sastra pada kolonialisme. Karenanya teori poskolonialisme memiliki arti penting dalam mengungkapkan kejadian penindasan oleh para kolonial terhadap kaum pribumi. Sehingga sastra dapat bernilai baik dan buruknya tergantung dari penyampaian eksperesinya. Juga sastra disatu sisi dipandang baik dalam pembentukan Hegemoni (kebudayaan)  masyarakatnya, namun disisi lain sastra juga digunakan untuk melawan hegemoni itu sendiri.

Kajian poskolonialisme menjarah hampir seluruh aspek kebudayaan, mencangkup diantaranya ideologi, politik, agama, pendidikan, sejarah, antropologi, bahasa dan sastra . Terlebih pula dalam bentuk praktik kolonial di lapangan seperti perbudakan, pemindahan penduduk, pemaksaaan bahasa serta bentuk bentuk penjajarah kolonial lainnya. Sehingga dengan adanya teori poskolonial sangat erat kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya.

Tak kalah penting pula, kajian poskolonial bukan hanya teori semata, melainkan suatu kesadaran itu sendiri, bahwa banyak hal yang harus diperangi mulai dari  orientalisme, rasisme, dan bentuk hegemoni lainnya. Yakni hegemoni yang dapat menindas suatu pihak tertentu dalam masyarakat. Pengaruh hegemoni barat masa kolonial masih dirasakan efeknya hingga sekarang. Sebab penjajahan kolonialisme tidak hanya berupa penjajahan secara fisik dalam perebutan wilayah ataupun  pengambilan seluruh aset.



Adapun ciri ciri khas poskolonialisme ada 4 hal kajian.

1. Mengkaji refleksi penjajahan kolonialisme

2. Mengkaji refleksi ideologi

3. Mengkaji Hegemoni Kekuasaan

4. Mengkaji Hegemoni dari aspek gender

Sejarah Poskolonialisme

Awal munculnya poskolonialisme sebagai kajian diperkirakan pada tahun 1970-an yang di Barat ditandai  dengan munculnya buku Orientalisme (1978) yang diterbitkan oleh Edward Said yang berkaitan dengan perspektif barat dalam memandang timur. Dalam bukunya said mengingatkan dunia sastra untuk tidak mengeksplorasi dan mendiskusikan ataupun menganggap penting kajian mengenai kolonialisme. Menurut Said bahwa orang orang eopa pada abad ke-19 mencoba menjustifikasi penaklukan kekuasaan mereka dengan meyebarkan keyakinan palsu. Hal itu menjadi tonggak kelahiran teori poskolonial. Said menggunakan pendekatan hubungan dan kekuasaan dengan megkritik sangat tajam tentang hegemoni barat terhadap timur dengan mengungkapkan berbagai kepentingan terselubung terhadap bangsa timur. Hal terebut disebabkan adanya interaksi  antara penjajah (bangsa barat) dengan masyarakat pribumi (Bangsa Timur) yang terjadi secara totalitas terhadap masyarakat jajahannya baik secara fisik maupun secara psikis/Mental. Kondisi sosial kebudayaan masyarakat pribumi turut pula dipengaruhi oleh hegemoni barat. Sehingga efek dari hegemoni barat itu masih dirasakan hingga sekarang walaupun telah Merdeka.   


Para Tokoh Poskolonialisme

Homi Bhabha, Buchie Emecheta, France Fanon, jamaica Kimcaid, Salman Rushdie, wole soyinka, dan Gayatri Chakavorty Spivak. Namun, tokoh yang paling terkenal dalam kajian poskolonialisme ada tiga orang atau lebih dikenal dengan istilah  Triosentris Poskolonialisme yaitu Edward Said, Gayatri Chakavorty, dan Homi K Bhabha.

Homi Bhabha, lahir 1949 di Mumbai (India). Bukunya  Nation and Narration (1949) dan The Location of Culture (1994)

Konsep Poskolonialisme Homi K Bhabha

a. Hibriditas merupakan dampak dari proes mimikri. Pada Hibriditas berarti Proses pencampuran antara budaya lokal dengan budaya penjajah. Misalnya ada orang yang menggunakan jas dengan sarung. Awalnya jas merupakan salah satu dari hegemoni barat namun tercampur dengan budaya tradisi masyarakat yang menggunakan sarung. Contoh lainnya adanya FasionShow juga merupakan peninggalan dari hegemoni barat.

b. Ambivalensi

c. Mimikri = Proses meniru identitas dengan identitas yang lebih powerful. Atau tercabutnya tradisi dan identitas tradisional masyarakat dan dipaksa beradaptasi dengan tradisi dan perilaku budaya penjajah (termasuk bahasa, sistem politik, sistem pendidikan, dan sistem lainnya). Para penjajah ingin mempertahankan identitasnya sebagai seorang yang superior dengan menampilkan perbedaan

 

 

Referensi

Eka Anggraini, Ade. 2018. Posmodernisme dan Poskolonialisme Dalam Karya Sastra. Jakarta : Pujangga

Nugraha, Dipa. 2015. Sastra dan Kajian Poskolonial. Surakarta : ResearchGate

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home